Friday, December 13, 2019

Feature: Membangun Literasi Desa Melalui KKN-MMK


Buku adalah jendela dunia, dengan membaca buku kita dapat menjelajahi dunia. Pengetahuan akan kita dapat melalui membaca, kualitas bangsa akan maju dengan sendirinya. Indonesia masih minim dalam hal membaca, khususnya anak desa yang pemberian bukunya belum merata. Pemerintah terkadang mengabaikannya, lupa akan generasi anak bangsa yang berada di desa membutuhkan taman baca atau perpustakaan keliling desa yang hanya dapat kita temui di kota.
Banyak potensi yang dapat dikembangkan di suatu desa. Mulai dari kekayaan alamnya yang masih asri, sumber daya manusia yang belum terkontaminasi, udara yang bebas polusi, namun terkadang masih ketinggalan dengan kemajuan teknologi yang semakin merambah di negeri ini.
Melek literasi harus ditanamkan sejak dini di seluruh pelosok negeri agar dapat mengikuti era globalisasi. Langkah pemerintah dalam upaya membangkitkan literasi guna memperbaiki kualitas bangsa ini harusnya selalu dicermati. Bukan hanya di kota-kota tapi juga sampai ke desa-desa.
KKN-MMK (Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Khusus) merupakan salah satu program pengabdian dari Universitas Islam di Semarang yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa guna memenuhi persyaratatan kelulusan sarjana. Salah satu fakultas yang ada di UIN Semarang yaitu fakultas Sains dan Teknologi mengajukan KKN-MMK di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Diikuti oleh 12 mahasiswa aktif angkatan 2016. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 45 hari dimulai dari bulan Januari 2019.
Pengembangan sumber daya lokal desa Sembalun Lawang melalui pemberdayaan masyarakat guna perbaikan lingkungan, kualitas pendidikan, dan tumbuhnya ekonomi kreatif merupakan tema yang diusung dalam KKN MMK tersebut. Salah satu proker dari divisi pendidikan adalah membangun taman baca dan memberdayakan kepada anak-anak khususnya untuk memanfaatkan taman baca tersebut. Salah satu upaya membangun literasi desa di desa Sembalun. Rinjani’s Book Worm, nama taman baca yang akan diusung. Filosofinya adalah desa ini berada di kaki gunung Rinjani maka dari itu untuk mengembangkan sumber daya lokal, tim KKN ini memberi nama taman bacanya dengan embel-embel rinjani. Selain itu, salah satu upaya yang akan dikembangkan adalah diskusi dan bedah buku yang dinamai ”Literasi Bergizi” dengan tujuan meningkatkan kemampuan pelajar dalam berpikir kritis.
Buku-buku yang akan diletakkan di Rinjani’s Book Worm berasal dari buku hasil sumbangan dari para mahasiswa, sponsor toko buku, iuran tim KKN, dan dana sponsorship. Konten buku juga disesuaikan dengan sasaran pembacanya yaitu anak-anak. Diharapkan anak-anak menyukai kegiatan membaca sedari dini mungkin supaya menjadi kebiasaan baik yang akan mengantarkan mereka menjelajahi dunia dan mencapai cita-citanya.
“Desa Sembalun Lawang awalnya memiliki tempat baca namun gabung satu dengan warung kopi. Jadi penikmat kopi dapat menikmati kopinya sambal membaca buku yang telah disediakan. Semenjak gempa Lombok satu tahun yang lalu, entah itu alasan yang logis atau mitos belaka, tempat itu mulai dihancurkan.” Kata Hafidhaturrahma selaku pencetus KKN MMK Lombok Timur.
Sejak saat itulah upaya-upaya perbaikan di daerah Lombok TImur, Sembalun Lawang mulai dilakukan. Program KKN MMK inilah merupakan suatu ajang untuk mengenalkan kepada masyarakat Sembalun Lawang. Taman baca untuk desa Sembalun Lawang, khusus untuk membaca bukan taman baca untuk desa Sembaln Lawang, khusus untuk membaca bukan yang lain.





No comments:

Post a Comment