Buku
adalah jendela dunia, dengan membaca buku kita dapat menjelajahi dunia.
Pengetahuan akan kita dapat melalui membaca, kualitas bangsa akan maju dengan
sendirinya. Indonesia masih minim dalam hal membaca, khususnya anak desa yang
pemberian bukunya belum merata. Pemerintah terkadang mengabaikannya, lupa akan
generasi anak bangsa yang berada di desa membutuhkan taman baca atau
perpustakaan keliling desa yang hanya dapat kita temui di kota.
Banyak
potensi yang dapat dikembangkan di suatu desa. Mulai dari kekayaan alamnya yang
masih asri, sumber daya manusia yang belum terkontaminasi, udara yang bebas
polusi, namun terkadang masih ketinggalan dengan kemajuan teknologi yang
semakin merambah di negeri ini.
Melek
literasi harus ditanamkan sejak dini di seluruh pelosok negeri agar dapat
mengikuti era globalisasi. Langkah pemerintah dalam upaya membangkitkan
literasi guna memperbaiki kualitas bangsa ini harusnya selalu dicermati. Bukan
hanya di kota-kota tapi juga sampai ke desa-desa.
KKN-MMK
(Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Khusus) merupakan salah satu program
pengabdian dari Universitas Islam di Semarang yang harus diikuti oleh setiap
mahasiswa guna memenuhi persyaratatan kelulusan sarjana. Salah satu fakultas
yang ada di UIN Semarang yaitu fakultas Sains dan Teknologi mengajukan KKN-MMK
di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Diikuti oleh 12 mahasiswa aktif
angkatan 2016. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 45 hari dimulai dari bulan
Januari 2019.
Pengembangan
sumber daya lokal desa Sembalun Lawang melalui pemberdayaan masyarakat guna
perbaikan lingkungan, kualitas pendidikan, dan tumbuhnya ekonomi kreatif
merupakan tema yang diusung dalam KKN MMK tersebut. Salah satu proker dari
divisi pendidikan adalah membangun taman baca dan memberdayakan kepada
anak-anak khususnya untuk memanfaatkan taman baca tersebut. Salah satu upaya
membangun literasi desa di desa Sembalun. Rinjani’s Book Worm, nama taman baca
yang akan diusung. Filosofinya adalah desa ini berada di kaki gunung Rinjani
maka dari itu untuk mengembangkan sumber daya lokal, tim KKN ini memberi nama
taman bacanya dengan embel-embel rinjani. Selain itu, salah satu upaya yang
akan dikembangkan adalah diskusi dan bedah buku yang dinamai ”Literasi Bergizi”
dengan tujuan meningkatkan kemampuan pelajar dalam berpikir kritis.
Buku-buku
yang akan diletakkan di Rinjani’s Book Worm berasal dari buku hasil sumbangan
dari para mahasiswa, sponsor toko buku, iuran tim KKN, dan dana sponsorship.
Konten buku juga disesuaikan dengan sasaran pembacanya yaitu anak-anak.
Diharapkan anak-anak menyukai kegiatan membaca sedari dini mungkin supaya
menjadi kebiasaan baik yang akan mengantarkan mereka menjelajahi dunia dan
mencapai cita-citanya.
“Desa
Sembalun Lawang awalnya memiliki tempat baca namun gabung satu dengan warung
kopi. Jadi penikmat kopi dapat menikmati kopinya sambal membaca buku yang telah
disediakan. Semenjak gempa Lombok satu tahun yang lalu, entah itu alasan yang
logis atau mitos belaka, tempat itu mulai dihancurkan.” Kata Hafidhaturrahma
selaku pencetus KKN MMK Lombok Timur.
Sejak
saat itulah upaya-upaya perbaikan di daerah Lombok TImur, Sembalun Lawang mulai
dilakukan. Program KKN MMK inilah merupakan suatu ajang untuk mengenalkan
kepada masyarakat Sembalun Lawang. Taman baca untuk desa Sembalun Lawang,
khusus untuk membaca bukan taman baca untuk desa Sembaln Lawang, khusus untuk
membaca bukan yang lain.
No comments:
Post a Comment