“Kita
adalah lakon utama dalam hidup kita dan humor adalah sesuatu yang tak bisa
lepas dari kisah hidup. Simple, kalau nggak jadi bahan candaan diri sendiri, ya
jadi bahan humor orang lain. Tambah pahala bukan?” begitu celoteh Kang Dur
biasa disapa, MC telat Kondang yang setia menjadi pembawa acara di Santrendelik
malam itu, Kamis, 31 Oktober 2019. Sempat mati lampu dan hujan deras mengguyur
tak menyurutkan para milenial meninggalkan acara Nongkrong Tobat Santrendelik
bersama Kang Prie GS (Kartunis, Penulis Buku) dengan tema “Aku Hidupku Humorku”.
Live musik mengiringi acara Santrendelik bersama Kang Prie GS
Santrendelik,
suatu kajian yang mengajak para muslim muslimat khususnya para pemuda milenial
memperbaiki diri dengan mengikuti kajian yang dikemas mengikuti perkembangan
zaman khususnya anak muda. Musik, nongkrong, dan kopi adalah hal yang identik
dengan milenial sekarang. Hal itulah yang membuat Duryanto, Kang Dur biasa disapa dibantu oleh
teman-temannya atau biasa disebut Komunitas Tobaters Santrendelik membuat suatu
acara pengajian dengan kemasan yang berbeda. Background anak muda menjadi
pilihan dari acara ini. Live musik, kopi yang disuguhkan, tempat yang dibuat
ala-ala tongkrongan anak muda benar benar berhasil menarik perhatian anak muda
untuk mengikuti acara tersebut.
Awalnya
Santrendelik ini adalah suatu komunitas Tobaters, orang-orang yang sama-sama
memiliki tujuan menjadi lebih baik. 02 November 2014 Walikota Semarang, H.
Hendrar Prihadi, S. E., M. M. meresmikan Komunitas Tobaters Santrindelik, pada
hari itu juga telah diresmikan oleh Gubernur Jawa tengah, H. Ganjar Pranowo,
SH. Pondok Pesantren Kontemporer Yayasan Santrendelik Kampung Tobat, serta
peresmian Program Sedekah Produktif Bank Kambing Santrindelik oleh H. Dahlan
Iskan.
Kegiatan
rutin dari Santrindelik ini salah satunya adalah kajian yang dilaksanakan rutin
setiap hari Kamis malam Jum’at pukul 19.00-22.00 WIB tanpa dipungut biaya dan
disediakan aneka suguhan kopi, susu, dan snack lainnya. Kajian ini bertempat di
suatu lahan kosong bertanamkan pohon jati, dibuat sedemikian rupa seperti
tempat tongkrongan dengan lampu kerlap-kerlip diikuti suara music yang
mengirinya, tepatnya di Jl. Kalialang Lama IX No. 44, Sukorejo, Gunungpati,
Semarang. (Nova Riyani)

Uuuuu pengen ikut kajian nya deh kak
ReplyDeletehihi, ayok tah mbak... wkwkwk
ReplyDelete