Membaca adalah salah satu pilihan hobi yang sering dilontarkan
kawula muda saat ditanya. Faktanya tak dijalankan sepenuhnya hanya kiasan
semata untuk melengkapi data. Padahal, jika itu benar terjadi pasti orang yang
hobi membaca akan mendapatkan dampak positif darinya. Pengetahuan jadi luas, public
speaking tertata, pemikiran kritis, dan sebagainya.
Faktanya, orang Indonesia lebih asyik dengan gadgetnya, lebih asyik
dengan gossip-gosip tetangga, tak memperhatikan minat baca. Tragedi Nol Buku,
ungkapan hasil penelitian Taufik Ismail 67 tahun yang lalu pun benar-benar
terjadi sekarang. Merosotnya minat baca setiap manusia di Indonesia, terkhusus
kawula muda. Miris memang, sampai sekarang masih belum terselesaikan masalahnya.
Masalah ini ibarat kebiasaan yang mendarah daging di kalangan anak muda Indonesia. Kebiasaan yang
berlarut-larut terjadi hingga menjadi penyakit yang belum ditemukan obatnya.
Alternatif lain pun dipilih untuk menyembuhkan penyakit yang dari dulu belum
sembuh juga.
Upaya-upaya tentu terus dilakukan untuk menyembuhkan penyakit
tersebut. Kita juga harus mengapresiasi Pemerintah dalam mencari jalan keluar
dari permasalahan yang sudah 67 tahun kita terjangkit pada masalah yang sama
dan kian hari kian menggigit jemari kita. Misalnya gerakan literasi wajib untuk
semua elemen sekolah di negeri ini tanpa terkecuali dengan harapan dapat
menumbuhkan minat baca bangsa khusunya di kalangan anak muda.
Kebijakan pemerintah pun akan sama saja jika tidak disertai
dukungan dari para pengajarnya. Jika seorang guru tidak memperhatikan siswa
dalam kegiatan literasi tersebut, bahkan juga tidak masukkelas pada jam
literasi, sama saja membiarkan siswa bebas melakukan apa saja. Siswa yang sadar
akan pentingnya membaca akan taat akan senang pada kegiatan literasi dan akan
membaca buku yang ia sukai, lain halnya siswa yang malas membaca, apa jadinya?.
untuk itu perlu kerja sama yang baik antara pemerintah dan guru dalam
menanggulangi mirisnya minat baca di kalangan anak muda.
Setiap negara berlomba-lomba untuk menumbuhkan minat baca. Seperti
Jepang, Korea, Finlandia, dan negara-negara lain, yang menganggap penting
kegiatan membaca. Mereka menomorsatukan kegiatan membaca. Dimanapun dan kapanpn
mereka selalu menyempatkan untuk membaca.
Jepang, negara maju yang terkenal dengan julukan negara sakura.
Namun kali ini kita tidak membahas sakuranya, tetapi membahas betapa mereka
mementingkan membaca sebagai rutinitas wajib yang mereka lakukan setiap hari.
Pantas saja negara ini merupakan salah satu dari negara maju yang selalu menciptakan
suatu inovasi teknologi. Muali dari teknologi pangan, transportasi,
pengetahuan, pendidikan, dan sebagainya, hal ini salah satunya dikarenakan
mereka selalu membaca. Ketika kita di Jepang, pemandangan orang sedang membaca
akan kita temui sehari-hari di berbagai tempat.
Hal yang sama akan kita temui di Korea dan negara lainnya.
Kebiasaan ini sebagai patokan pertumbuhan pendidikan yang baik dan
berkelanjutan. Pendidikan berpatokan terhadap kecerdasan bangsa dan akan sangat
mempengaruhi suatu negara.
Wawasan luas, pemahaman karakter, dan pengetahuan intelektual
adalah beberapa indikator yang terjabar dari kecerdasan tersebut. Semua hal itu
akan terwujud jika kita mementingkan kegiatan membaca. Tak salah jika
negara-negara yang mementingkan kegiatan membaca merupakan negara yang memiki
kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sejak zaman purba berakhir, kita telah mengenal tulisan huruf dan
angka. Beberapa tulisan sudah dipublikasikan mengenai perjuangan bangsa,
pemberontakan, gencatan, dan upaya merebut kemerdekaan. Hal itu yang
ditunggu-tunggu oleh masyarakat pribumi untuk mengenai kabar pada saat itu.
Surat kabar adalah bukti resmi bahwa dahulu, bangsa Indonesia
pernah berjuang untuk membaca. Informasi-informasi penting disebar melalui
surat kabar. Namun perlu diam-diam untuk dapat membacanya. Hal tersebut terjadi
karena ketakutan akan hukuman yang dilakukan koloni Belanda yang sangat
membatasi kabar pada saat itu.
Mirisnya, mengpa di era reformasi sekarang, saat kita sudah bebas
bersuara, bebas bertindak, bebas melakukan apa saja, kita sudah merdeka tapi
malah menutup mata dan telinga untuk membaca? Sedang para pahlawan saat itu
berjuang untuk membaca meski nyawanya terancam di bilah senapan.
Membaca tidak hanya wujud literasi semata, namun lebih dari itu.
Setiap orang yang sukses terlahir dari kegemarannya dalam membaca. Membaca
membuat kita bisa menggenggam dunia. Jadi tidak salah dengan istilah bahwa Buku
adalah jendela dunia, dengan membaca kita bisa menjelajah dunia. Banyak
pemimpin yang lahir dari kegemaran membacanya.
Soekarno, presiden pertama Indonesia juga sebagai sosok politikus
dan ahli hukum ini memiliki kegemaran membaca. Hatta adalah budayawan yang gemar
membaca juga menjadi wakil presiden pertama Indonesia. BJ Habibi seorang ahli
merakit pesawat dan menjadi presiden ketiga Indonesia karena gemar membaca.
Membaca adalah kata kerja dalam memahami dunia seisinya. Begitu penting minat
baca ditumbuhkembangkan pada diri setiap kalangan anak muda Indonesia.
Sayangnya, Indonesia adalah negara berkembang yang minat baca
penduduknya berada pada peringkat 60 dari 61 negara di dunia. Wow, sangat miris
melihat merosotnya negara kita terhadap kegiatan membaca.
Angka kemerosotan di atas membuat kita berada di posisi yang jauh
dari negara lainnya. Harga diri bangsa seolah-olah terjun bebas menjauhi
cita-cita luhur bangsa kita sendiri. Rona malu harusnya terpancar dari dalam
diri kita sebagai warga negara Indonesia. Apa itu yang ingin kita dapatkan?
Peringkat paling bawah yang kita dapatkan? Keinginan kita menjadi negara maju
tak diimbangi dengan kebiasaan orang-orang yang maju ibarat menyanyi tanpa
suara, hening.
Membaca ibarat memahami peta dunia dan segala titik-titik
pentingnya. Membaca itu penting namun kita mengabaikannya. Kita punya banyak
penulis berkualitas. Kita punya banyak buku yang berbobot. Kita adalah negara
dengan berjuta penulis bertalenta yang telah menebar ilmu-ilmu melalui
buku-bukunya, dan disebar ke setiap pelosok kota. Namun, kita belum punya
pembaca yang setia menunggu sebuah hasil karya, miris bukan?
Negara literat, itulah sebutan bagi Finlandia. Negara yang
penduduknya memiliki minat baca tertinggi di dunia. Minat baca di Finlandia
ditumbuhkembangkan sejak dini. Orangtua adalah role mode bagi anak-anaknya.
Dongeng sebelum tidur jadi cara Finlandia untuk membiasakan budaya membaca bagi
anak-anak.
Dongeng sebelum tidur, kalimat yang sering kita dengar namun tidak
kita laksanakan. Finlandia adalah negara yang mewajibkan setiap orangtua
melakukan itu kepada anak-anaknya sebelum tidur. Bagaimana di Indonesia? Orang
tua sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa satu kewajiban utama yaitu role mode
bagi anak-anaknya. Apakah orangtua adalah orang yang tepat untuk menyembuhkan
penyakit akut ini?
Anak-anak adalah pribadi peniru. Ada ungkapan bahwa buah yang jatuh
tidak akan jauh dari pohonnya. Begitu juga minat baca. Orangtua telebih dahulu
harus gemar membaca barulah anak-anaknya akan meniru kebiasaan tersebut.
Kita kalah telak dalam urusan membaca, namun malah meroket dalam
bersosial media. Indonesia adalah negara pemakai aplikasi Facebook terbesar di
dunia. Tmparan keras bagi nasib bangsa ke depannya. Bagi orangtua yang gemar
sosial media, siap-siap saja untuk tiruan sikap yang dilakukan anak-anaknya.
Bahkan akan lebih dari itu.
Sejatinya, sosial media dan seluk-beluknya adalah perusak terhebat
jika tidak digunakan sesuai dengan semestinya. Sungguh luar biasa susah
menumbuhkan minat baca bagi kalangan muda. Mengubah kebiasaan memang tidak
sembudah membalikkan telapak tangan. Gemar gadget susah ditukar dengan gemar
membaca. Tanpa gadget separuh jiwanya hilang tanpa membaca tak berpengaruh
apa-apa, salah besar jika ada pernyataan seperti itu. Justru hal itu harus
dibalik, membaca menjadi kebiasaan mendarah daging, pasti Indonesia mampu
mencapai cita-cita luhur bangsa.
Selain gerakan literasi sekolah yang pemerintah canangkan,
perpustakaan keliling sudah terpampang jelas di sudut-sudut kota salah satu
solusi yang ditawarkan olehnya. Buku-buku sudah disebar ke sekolah-sekolah
seluruh Indonesia. Perpustakaan daerah telah berdiri di setiap kota madya.
Hal-hal unik sudah dilakukan sebagai wujud menumbuhkan minat baca di aklangan
anak muda.
Semua itu sia-sia jika tidak dibarengi dengan kerja sama orang tua
sebagai pemasok utama pendidikan bagi anak mereka. Orangtua lagi dan lagi
adalah elemn pertama yang wajib menanamkan minat baca kepada kalangan muda demi
kemajuan bangsa kedepannya.
Dicari satu dapatnya banyak adalah prinsip membaca buku. Hal ini
berbnding terbalik dengan prinsip internet yang luar biasa instan. Perkembangan
teknologi membuat setiap orang terlena. Keseruan dan keasyikan bermain game
membuat anak berlama-lama di sepan layar terang yang diam-diam menghanyutkan
itu. Daya pikat gadget lebih kuat dibanding buku.
Jika masalahnya di daya pikat, buku sudah dibuat sedemikian rupa
indahnya untuk menarik perhatian pembaca. Namun, mengapa masih saja minat baca
di kalangan muda rendah? Berarti penyakit ini belum diobati sampai ke
akar-akarnya.
Perlu banyak mendalami terkait obat yang ampuh untuk menyembuhkan
penyakit ini. Hal ini tidak bisa dianggap sepele karena hal yang buruk mengenai
nasib bangsa akan terjadi akibat keteledoran satu aspek saja yaitu membaca.
Minat baca tidak terlahir instan. Cara menumbuhkan beraneka ragam,
namun susah untuk mencari solusi yang tepat, akurat dan mendalam. Butuh
kegigihan dari berbagai elemen seperti pemerintah, guru, dan terkhusus orangtua
yang menumbuhkembangkannya. Penanaman gemar membaca sejak dini adalah salah
satu cara menumbuhkan minat baca anak berkelanjutan. Orangtua adalah role mode
bagi anaknya. Jika demikian, orang tua harus rajin membaca. Sehingga budaya
membaca menjadi kebiasaan orangtua dan anak yang berkelanjutan.
No comments:
Post a Comment