Friday, December 13, 2019

Opini: Mirisnya Minat Baca di Kalangan Anak Muda




Membaca adalah salah satu pilihan hobi yang sering dilontarkan kawula muda saat ditanya. Faktanya tak dijalankan sepenuhnya hanya kiasan semata untuk melengkapi data. Padahal, jika itu benar terjadi pasti orang yang hobi membaca akan mendapatkan dampak positif darinya. Pengetahuan jadi luas, public speaking tertata, pemikiran kritis, dan sebagainya.
Faktanya, orang Indonesia lebih asyik dengan gadgetnya, lebih asyik dengan gossip-gosip tetangga, tak memperhatikan minat baca. Tragedi Nol Buku, ungkapan hasil penelitian Taufik Ismail 67 tahun yang lalu pun benar-benar terjadi sekarang. Merosotnya minat baca setiap manusia di Indonesia, terkhusus kawula muda. Miris memang, sampai sekarang masih belum terselesaikan masalahnya.
Masalah ini ibarat kebiasaan yang mendarah daging di kalangan  anak muda Indonesia. Kebiasaan yang berlarut-larut terjadi hingga menjadi penyakit yang belum ditemukan obatnya. Alternatif lain pun dipilih untuk menyembuhkan penyakit yang dari dulu belum sembuh juga.
Upaya-upaya tentu terus dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Kita juga harus mengapresiasi Pemerintah dalam mencari jalan keluar dari permasalahan yang sudah 67 tahun kita terjangkit pada masalah yang sama dan kian hari kian menggigit jemari kita. Misalnya gerakan literasi wajib untuk semua elemen sekolah di negeri ini tanpa terkecuali dengan harapan dapat menumbuhkan minat baca bangsa khusunya di kalangan anak muda.
Kebijakan pemerintah pun akan sama saja jika tidak disertai dukungan dari para pengajarnya. Jika seorang guru tidak memperhatikan siswa dalam kegiatan literasi tersebut, bahkan juga tidak masukkelas pada jam literasi, sama saja membiarkan siswa bebas melakukan apa saja. Siswa yang sadar akan pentingnya membaca akan taat akan senang pada kegiatan literasi dan akan membaca buku yang ia sukai, lain halnya siswa yang malas membaca, apa jadinya?. untuk itu perlu kerja sama yang baik antara pemerintah dan guru dalam menanggulangi mirisnya minat baca di kalangan anak muda.
Setiap negara berlomba-lomba untuk menumbuhkan minat baca. Seperti Jepang, Korea, Finlandia, dan negara-negara lain, yang menganggap penting kegiatan membaca. Mereka menomorsatukan kegiatan membaca. Dimanapun dan kapanpn mereka selalu menyempatkan untuk membaca.
Jepang, negara maju yang terkenal dengan julukan negara sakura. Namun kali ini kita tidak membahas sakuranya, tetapi membahas betapa mereka mementingkan membaca sebagai rutinitas wajib yang mereka lakukan setiap hari. Pantas saja negara ini merupakan salah satu dari negara maju yang selalu menciptakan suatu inovasi teknologi. Muali dari teknologi pangan, transportasi, pengetahuan, pendidikan, dan sebagainya, hal ini salah satunya dikarenakan mereka selalu membaca. Ketika kita di Jepang, pemandangan orang sedang membaca akan kita temui sehari-hari di berbagai tempat.
Hal yang sama akan kita temui di Korea dan negara lainnya. Kebiasaan ini sebagai patokan pertumbuhan pendidikan yang baik dan berkelanjutan. Pendidikan berpatokan terhadap kecerdasan bangsa dan akan sangat mempengaruhi suatu negara.
Wawasan luas, pemahaman karakter, dan pengetahuan intelektual adalah beberapa indikator yang terjabar dari kecerdasan tersebut. Semua hal itu akan terwujud jika kita mementingkan kegiatan membaca. Tak salah jika negara-negara yang mementingkan kegiatan membaca merupakan negara yang memiki kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sejak zaman purba berakhir, kita telah mengenal tulisan huruf dan angka. Beberapa tulisan sudah dipublikasikan mengenai perjuangan bangsa, pemberontakan, gencatan, dan upaya merebut kemerdekaan. Hal itu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat pribumi untuk mengenai kabar pada saat itu.
Surat kabar adalah bukti resmi bahwa dahulu, bangsa Indonesia pernah berjuang untuk membaca. Informasi-informasi penting disebar melalui surat kabar. Namun perlu diam-diam untuk dapat membacanya. Hal tersebut terjadi karena ketakutan akan hukuman yang dilakukan koloni Belanda yang sangat membatasi kabar pada saat itu.
Mirisnya, mengpa di era reformasi sekarang, saat kita sudah bebas bersuara, bebas bertindak, bebas melakukan apa saja, kita sudah merdeka tapi malah menutup mata dan telinga untuk membaca? Sedang para pahlawan saat itu berjuang untuk membaca meski nyawanya terancam di bilah senapan.
Membaca tidak hanya wujud literasi semata, namun lebih dari itu. Setiap orang yang sukses terlahir dari kegemarannya dalam membaca. Membaca membuat kita bisa menggenggam dunia. Jadi tidak salah dengan istilah bahwa Buku adalah jendela dunia, dengan membaca kita bisa menjelajah dunia. Banyak pemimpin yang lahir dari kegemaran membacanya.
Soekarno, presiden pertama Indonesia juga sebagai sosok politikus dan ahli hukum ini memiliki kegemaran membaca. Hatta adalah budayawan yang gemar membaca juga menjadi wakil presiden pertama Indonesia. BJ Habibi seorang ahli merakit pesawat dan menjadi presiden ketiga Indonesia karena gemar membaca. Membaca adalah kata kerja dalam memahami dunia seisinya. Begitu penting minat baca ditumbuhkembangkan pada diri setiap kalangan anak muda Indonesia.
Sayangnya, Indonesia adalah negara berkembang yang minat baca penduduknya berada pada peringkat 60 dari 61 negara di dunia. Wow, sangat miris melihat merosotnya negara kita terhadap kegiatan membaca.
Angka kemerosotan di atas membuat kita berada di posisi yang jauh dari negara lainnya. Harga diri bangsa seolah-olah terjun bebas menjauhi cita-cita luhur bangsa kita sendiri. Rona malu harusnya terpancar dari dalam diri kita sebagai warga negara Indonesia. Apa itu yang ingin kita dapatkan? Peringkat paling bawah yang kita dapatkan? Keinginan kita menjadi negara maju tak diimbangi dengan kebiasaan orang-orang yang maju ibarat menyanyi tanpa suara, hening.
Membaca ibarat memahami peta dunia dan segala titik-titik pentingnya. Membaca itu penting namun kita mengabaikannya. Kita punya banyak penulis berkualitas. Kita punya banyak buku yang berbobot. Kita adalah negara dengan berjuta penulis bertalenta yang telah menebar ilmu-ilmu melalui buku-bukunya, dan disebar ke setiap pelosok kota. Namun, kita belum punya pembaca yang setia menunggu sebuah hasil karya, miris bukan?
Negara literat, itulah sebutan bagi Finlandia. Negara yang penduduknya memiliki minat baca tertinggi di dunia. Minat baca di Finlandia ditumbuhkembangkan sejak dini. Orangtua adalah role mode bagi anak-anaknya. Dongeng sebelum tidur jadi cara Finlandia untuk membiasakan budaya membaca bagi anak-anak.
Dongeng sebelum tidur, kalimat yang sering kita dengar namun tidak kita laksanakan. Finlandia adalah negara yang mewajibkan setiap orangtua melakukan itu kepada anak-anaknya sebelum tidur. Bagaimana di Indonesia? Orang tua sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa satu kewajiban utama yaitu role mode bagi anak-anaknya. Apakah orangtua adalah orang yang tepat untuk menyembuhkan penyakit akut ini?
Anak-anak adalah pribadi peniru. Ada ungkapan bahwa buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Begitu juga minat baca. Orangtua telebih dahulu harus gemar membaca barulah anak-anaknya akan meniru kebiasaan tersebut.
Kita kalah telak dalam urusan membaca, namun malah meroket dalam bersosial media. Indonesia adalah negara pemakai aplikasi Facebook terbesar di dunia. Tmparan keras bagi nasib bangsa ke depannya. Bagi orangtua yang gemar sosial media, siap-siap saja untuk tiruan sikap yang dilakukan anak-anaknya. Bahkan akan lebih dari itu.
Sejatinya, sosial media dan seluk-beluknya adalah perusak terhebat jika tidak digunakan sesuai dengan semestinya. Sungguh luar biasa susah menumbuhkan minat baca bagi kalangan muda. Mengubah kebiasaan memang tidak sembudah membalikkan telapak tangan. Gemar gadget susah ditukar dengan gemar membaca. Tanpa gadget separuh jiwanya hilang tanpa membaca tak berpengaruh apa-apa, salah besar jika ada pernyataan seperti itu. Justru hal itu harus dibalik, membaca menjadi kebiasaan mendarah daging, pasti Indonesia mampu mencapai cita-cita luhur bangsa.
Selain gerakan literasi sekolah yang pemerintah canangkan, perpustakaan keliling sudah terpampang jelas di sudut-sudut kota salah satu solusi yang ditawarkan olehnya. Buku-buku sudah disebar ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Perpustakaan daerah telah berdiri di setiap kota madya. Hal-hal unik sudah dilakukan sebagai wujud menumbuhkan minat baca di aklangan anak muda.
Semua itu sia-sia jika tidak dibarengi dengan kerja sama orang tua sebagai pemasok utama pendidikan bagi anak mereka. Orangtua lagi dan lagi adalah elemn pertama yang wajib menanamkan minat baca kepada kalangan muda demi kemajuan bangsa kedepannya.
Dicari satu dapatnya banyak adalah prinsip membaca buku. Hal ini berbnding terbalik dengan prinsip internet yang luar biasa instan. Perkembangan teknologi membuat setiap orang terlena. Keseruan dan keasyikan bermain game membuat anak berlama-lama di sepan layar terang yang diam-diam menghanyutkan itu. Daya pikat gadget lebih kuat dibanding buku.
Jika masalahnya di daya pikat, buku sudah dibuat sedemikian rupa indahnya untuk menarik perhatian pembaca. Namun, mengapa masih saja minat baca di kalangan muda rendah? Berarti penyakit ini belum diobati sampai ke akar-akarnya.
Perlu banyak mendalami terkait obat yang ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini. Hal ini tidak bisa dianggap sepele karena hal yang buruk mengenai nasib bangsa akan terjadi akibat keteledoran satu aspek saja yaitu membaca.
Minat baca tidak terlahir instan. Cara menumbuhkan beraneka ragam, namun susah untuk mencari solusi yang tepat, akurat dan mendalam. Butuh kegigihan dari berbagai elemen seperti pemerintah, guru, dan terkhusus orangtua yang menumbuhkembangkannya. Penanaman gemar membaca sejak dini adalah salah satu cara menumbuhkan minat baca anak berkelanjutan. Orangtua adalah role mode bagi anaknya. Jika demikian, orang tua harus rajin membaca. Sehingga budaya membaca menjadi kebiasaan orangtua dan anak yang berkelanjutan.





























No comments:

Post a Comment